Thursday, October 4, 2012

Hanya 3 Tahun Masa TBM karet

"Berapa tahun tanaman karet baru bisa dideres?".
Saya sering mendapat pertanyaan seperti ini dari teman-teman petani sawit. Kebanyakan dari mereka tertarik pada karet karena hasil per ha biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan sawit.

Namun, petani-petani ini selalu mengurungkan niatnya ketika mereka mendengar bahwa tanaman karet memerlukan 5-7 tahun baru dapat dideres(dibandingkan dengan sawit 3-4 tahun). Menentukan tanaman karet berdasarkan umur merupakan persepsi yang salah. Pokok karet dikatakan telah matang untuk disadap apabila ukuran lilit batang sudah mencapai minimum 45cm dengan ketebalan kulit 7mm. Saat ini, banyak perusahaan besar telah berhasil mempersingkat masa TBM menjadi 4 tahun. 

Pada kebun kami sendiri, masa TBM hanya 3 - 3.5 tahun. Perlu digaris bawahi bahwa kondisi tanah dikebun kami adalah lempung berpasir, dan kandungan pasirnya mencapai 86% (berdasarkan hasil analisis tanah). Ini adalah kualitas tanah yang jelek. Tanah berpasir umumnya tidak dapat menampung air dan sangat miskin hara. 


Secara genetik, bibit yang kami dapatkan pada awal penanaman bukanlah bibit yang jagur, begitu juga asal usulnya yang tidak jelas (tidak bersetifikat), dan berupa campuran klon PB260, RRIM600, dll

Namun demikian, kami berhasil mempersingkat masa TBM hingga hanya 3 - 3.5 tahun. Timbul pertanyaan saya: Bagaimana perkembangan tanaman apabila tanah dan bibit yang tersedia lebih baik dari kondisi sekarang? Saya percaya dengan kondisi yang lebih baik dipadu dengan cara perawatan dan pemupukan yang tepat, masa TBM dapat dipersingkat lebih cepat lagi (sekitar 2 - 2.5 tahun)

Selama 1.5 tahun kami menggunakan Promax, kerusakkan tanaman (infeksi akar) oleh JAP sudah bisa dibilang hampir tidak ada. Dengan pokok yang sehat, perkembangan tanaman juga makin membaik. 
Disini perlu saya memberikan kredit kepada Team Promax. Metode dan saran yang diberikan oleh konsultan Promax memang sangat unik, tapi efektif. (Maaf, saya tidak dapat membocorkan semua teknik perawatan dan pemupukan ala Team Promax, kecuali anda adalah konsumen Promax). Tetapi saya dapat memberitahukan anda apa yang perlu dipakai pada kondisi tanah berpasir, dan itu adalah kompos.

Pembenahan tanah atau soil treatment yang disarankan oleh Team Promax adalah dengan menggunakan kompos. Kompos sangat berperan dalam perkembangan TBM kami yang singkat. 
Fungsi kompos adalah:
1. Menahan (menyimpan) air, di mana air sangat minim di tanah pasir.
2. Menurunkan suhu tanah dengan kelembabannya. Pada tanah pasir, kandungan silica (gelas) sangat tinggi Ketika silica terkena sinar matahari, suhu di tanah berpasir akan naik dan umumnya lebih tinggi dibandingkan di tanah jenis lain. Suhu tanah yang tinggi ini dapat merusak akar.
3. Menaikan pH tanah dan meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah (merupakan barometer kesuburan tanah)
4. Kompos kaya akan mikroorganisma yang dapat membantu pembentukan dan perkembangan akar-akar hara.

Metode ini bisa dibilang sangat berani karena perlu kita ingat bahwa kompos merupakan sumber JAP. Tetapi, ini bukan masalah bagi kami dengan adanya aplikasi Promax. Selain disemprotkan pada pangkal batang, Promax juga disemprotkan di atas kompos untuk mencegah pertumbuhan JAP.

Fungsi lain Promax yang tak kalah pentingnya adalah pertumbuhan vegetatif tanaman. Promax dapat merangsang pertumbuhan akar-akar tersier dan quartet. Semakin banyak akar-akar halus ini, penyerapan hara atau pupuk oleh tanaman akan lebih efisien. Ini berarti pupuk yang kita aplikasikan ke tanaman lebih banyak diserap oleh tanaman daripada hilang (tercuci, atau menguap).

Semoga informasi ini bermanfaat bagi teman-teman :)

Berikut adalah bukti foto-foto yang saya ambil dari kebun kami kemarin:

Foto1: Gumpalan-gumpalan tanah itu adalah vermi compost atau kotoran cacing. Ini membuktikan tanah pasir yang dulunya minim akan mikroorgnisma, sekarang sudah berubah menjadi subur.

Foto2: Akar-akar halus mulai muncul

Foto3: Perkembangan akar halus pada kompos yang disemprotkan PROMAX

Foto4: Jumlah akar halus sangat minim pada sisi kiri dan kanan yang ditandai dengan warna kuning. Sedangkan pada area (merah)yang diaplikasikan kompos, akar-akar halus sangat banyak.

Foto5: Aplikasi kompos pada barisan pokok

Foto6: Penyemprotan PROMAX pada pangkal batang

Foto7: Tahun tanam 2009

Foto8: Rata-rata lilit batang pokok pada tanaman tahun tanam 2009 sudah mencapai 45cm

Foto9: Salah satu pokok tahun tanam 2009 yang lilit batangnya sudah diatas 50cm

Foto10:  Tahun tanam 2010

Foto11:  Tahun tanam 2010


Wednesday, April 11, 2012

UPDATE: Promax Review setelah 9 bulan

Untuk post kali ini, saya akan membahas perkembangan kebun kami seiring dengan pemakaian PROMAX.

Ada 3 hal yang mencolok selama 9 bulan ini:
1. Selama pemakaian Promax, tidak ada satu pokok pun yang mati. Ini adalah kemajuan yang luar biasa bila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, dimana 2-3 pokok per bulan yang tumbang akibat infeksi JAP. Promax, sebagai biofungisida, memang terbukti dapat mengatasi JAP.
2. Pertumbuhan lilit batang yang pesat terutama pada tahap 3 tanaman karet kita dengan tahun tanam 2010 (Liat gambar dibawah.)
3. Kotoran cacing mulai muncul pada tanah yang awalnya sangat gersang (86% pasir). Seperti yang tertulis di dalam brosurnya, Promax dapat memperbaiki sifat fisik, kimiawi dan biologi tanah sehingga meningkatkan penyerapan hara oleh tanaman. 

Berikut adalah foto-foto terbaru kebun kita yang saya ambil kemarin.

Pic #1: Gawangan pada areal tahap I (bersih dari tunggul)

Pic#2: Gawangan pada areal tahap I (tahun tanam 2008)

Pic #3: Gawangan pada areal tahap II (tahun tanam 2009)

Pic #4: Gawangan pada areal tahap II (tahun tanam 2009)

Pic #5: Gawangan pada areal tahap III (tahun tanam 2010)

Pic #6:  Pokok rambung tahun tanam 2010

Pic #7: Kotoran cacing (Vermi compost) mulai muncul pada tanah 

Pic #8: Vermi compost

Demikianlah post ini, semoga bermanfaat bagi teman-teman.

NSLMF

Saturday, April 7, 2012

Pemakaian Jenis Pupuk yang Benar

Sering saya jumpai banyak petani-petani tradisional tidak mengetahui pupuk apa yang mesti digunakan pada kondisi tanah atau tanaman tertentu. Biasanya, mereka hanya mendengar dan mengikuti saran dari teman ataupun meniru cara pemupukan perusahaan besar. Padahal kondisi tanah di masing-masing kebun adalah berbeda walaupun terdapat pada area atau daerah yang sama.

Di dalam tanah, terdapat 19 unsur hara yang penting bagi tanaman:
Makro: N-P-K-S-Ca-Mg
Mikro: Fe-Zn-Cu-B-Mn-Si-Mo-Co-Cl-Na
Gratis: C-O-H

Apa itu TSP, Urea, KCL, dll? Itu hanyalah nama dagang/merek pupuk yang mengandung unsur tertentu.
Contoh:
TSP - mengandung 45% unsur P2O5 dan 28% CaO
RP - 29-34% P2O5 dan 35% CaO
Urea - 46% N
ZA - 21%N dan 24%S
KCL - 60% K2O dan 50%Cl
Kieserite - 27% MgO dan 22% S
Dolomite - 18-20% MgO dan 50% CaO
dll

Jadi apa bedanya TSP dan RP selain kandungan persentasi hara yang berbeda? 
Perlu diketahui bahwa pupuk RP memerlukan waktu yang lama untuk terlarut dibandingkan TSP. Oleh sebab itu, RP lebih cocok digunakan pada tanaman bibitan karena bersifat slow-released. 

Urea VS. ZA? 
Banyak petani menggunakan ZA daripada Urea karena harga ZA lebih murah dari Urea. Selain itu ZA juga dapat menekan JAP karena mengandung Sulfur (jamur tidak suka dalam kondisi asam). Tetapi, disisi lain penggunaan ZA juga menekan pH tanah menjadi rendah sehingga penyerapan unsur-unsur hara (pupuk) tidak sempurna. Kisaran pH yang baik buat tanaman adalah 5.5-6.0. Tetapi pada kisaran tsb JAP berkembang biak dengan cepat. Ini maju salah, mundur juga salah. Solusi yang saya gunakan adalah dengan pemakaian PROMAX, dimana enzim kitinase dari Promax lah yang dapat mengurai dinding-dinding kitin jamur, kemudian enzim-enzim lainnya mengurai bagian dalam dari jamur tersebut. Dengan aplikasi Promax, tanaman dapat makan dengan efisien dan JAP juga dapat dikendalikan. Ini baru namanya win-win situation. (Silakan lihat post lama percobaan tes Promax pada kebun kita sendiri)

Kieserite VS. Dolomite
Kieserite(MgSO4) mengandung 22% Sulfur sebaiknya digunakan pada tanah dengan pH diatas 6. Sedangkan Dolomite dianjurkan pada tanah yang bersifat masam (dibawah pH 5). Perlu dilakukan cek pH tanah dengan menggunakan pH meter untuk menjaga kisaran pH tanah 5.5 - 6.0 sesering mungkin.

Pic: pH meter

Saya harap info-info ini dapat membantu kawan-kawan kita dalam memilih pupuk yang bener.

Never stop learning my friend

SANITASI


Ada 100 cara mengatasi JAP , tetapi pencegahan yang paling penting dalam mengatasinya adalah memusnahkan sumber-sumber JAP tersebut dengan menjaga sanitasi kebun. Sumber JAP biasanya berasal dari sisa-sisa dekomposisi tanaman (sawit, karet, kayu hutan lainnya,dll). 

Jadi apa yang mesti diperhatikan dalam sanitasi kebun?
1. Tunggul-tunggul mesti dibongkar, dicincang dan dibakar.
2. Cabang-cabang hasil topping tidak boleh dibiarkan di gawangan. Sebaiknya dikumpul di satu tempat (lapangan), kemudian dibakar.
3. Ranting-ranting kecil juga tidak luput dari sanitasi.

 Berikut adalah beberapa foto-foto di beberapa kebun yang pernah saya kunjungi:


 Pic #1: Terlihat miselium/benang-benang putih pada tunggul bekas kayu hutan

Pic#2: Bahkan ranting juga menjadi sumber JAP

Pic#3: Stadium 4, dimana fruiting body (badan jamur) sudah muncul. 

Pic#4: Gawangan penuh dengan tunggul merupakan ancaman besar bagi tanaman karet. 

Pic #5: Stadium 1, dimana miselium/benang-benang putih menempel dipermukaan akar

Pic #6: Tanaman mati ketika badan jamur muncul

Pic #7: Kaki gajah pada pokok tsb mulai busuk. Pada kasus ini JAP sudah memasuki stadium 3

Pic #8: Pembusukan kulit kayu oleh JAP

Pic #9: Airborne (dari udara) dimana spora JAP ditiup angin kemudian lengket pada kulit batang

Pic #10: Potongan kayu seperti ini sebaiknya dibakar

Pic #11: Gawangan dengan tunggul sawit.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi teman-teman.

Never stop learning my friend

Sunday, July 31, 2011

Menanggulangi JAP dengan PROMAX - PART 2

Berikut adalah hasil aplikasi Promax terhadap JAP 10 hari kemudian:


Foto1: Setelah 10 hari aplikasi Promax, JAP tidak ditemukan pada pangkal pokok ini


Foto2: Miselium/benang-benang putih JAP tidak ditemukan


Foto3: Pangkal batang pokok bebas dari JAP setelah 10 hari aplikasi PROMAX


Foto4: Perbandingan sebelum dan sesudah aplikasi Promax. Dapat dilihat bahwa terdapat JAP (benang-benang putih) pada gambar sebelah kiri. Sedangkan gambar di sebelah kanan tidak lagi terdapat JAP


Foto5: Sangat jelas bahwa setelah 10 hari aplikasi Promax, fruiting body atau jamur-jamur yang melekat di batang akar menjadi kering, terkelupas dan mati.


Kesimpulan: Dari percobaan di kebun kita sendiri, Promax terbukti dapat mengatasi Jamur Akar Putih dengan baik.


Motto: Never stop learning my friend...

Wednesday, July 20, 2011

Menanggulangi JAP dengan PROMAX - PART 1

Beberapa minggu ini, nama produk Promax ini selalu muncul dan teman-teman saya selalu merekomendasikan pupuk ini. Biasanya, pupuk-pupuk ataupun obat-obat baru tidak begitu saya perhatikan karena pada dasarnya perusahaan-perusahaan yang membuat pupuk/obat tersebut tidak memiliki data-data percobaan yang lengkap (baik di lab maupun di lapangan).

Promax mendapat perhatian saya karena produk ini telah lolos dari pengujian Balai Penelitian Karet Sungei Putih (baik di lab maupun di lapangan), dan mendapatkan rekomendasi yang baik dari balai tersebut. Selain itu, list customers Promax ini juga mengejutkan, dari perkebunan BUMN sampai perkebunan swasta besar lainnya (nama perusahaan tidak di tampilkan karena masalah confidential).

Data hasil percobaan dari balai penelitian karet juga sangat mengagumkan. Promax dalam uji coba di lab dapat menghambat pertumbuhan JAP sampai dengan 90.1%. Di lapangan, intensitas serangan JAP sebelum aplikasi adalah 22%, dan sesudah aplikasi Promax menurun menjadi 4.67%. Selain itu, aplikasi Promax juga bisa meningkatkan pertumbuhan lilit batang (selama dua bulan) yang mencapai 19.26%. *Data-data diatas saya ambil langsung dari Laporan Hasil Pengujian Pengaruh Promax Terhadap Perkembangan Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) oleh Balai Penelitian Karet Sungei Putih.

Setelah melihat data-data tersebut, saya langsung menghubungi pihak CV. Patih Gajah Mada untuk segera melakukan percobaan di kebun kami langsung.

Berikut adalah foto-foto pada saat percobaan:



Foto1: Pencampuran 750cc Promax dengan 750cc air. Dosis per pokok adalah 100cc (untuk preventive) dan 150cc (untuk pengobatan).


Foto2: Penyiraman dengan radius 10 cm dari pangkal batang (pangkal batang juga disemprot)


Foto3: Pengobatan dengan bahan kimia yang menyebabkan akar tersier (serabut) mati.



Foto4: Miselium/benang - benang putih JAP yang menempel di permukaan kulit akar


Foto5: Minimnya akar tersier akibat penggunaan obat yang berbahan kimia dan metode pengerokan kulit akar yang mengakibatkan pertumbuhan pokok menjadi lambat dan hasil sadap menurun.



Foto 6: Akar tersier yang mati akibat penggunaan bahan kimia dan belerang 


Foto7: Fruiting body JAP menandakan pokok tersebut telah memasuki stadium 4. Promax hanya dapat menyembuhkan tanaman yang terserang stadium 1, 2, dan mungkin 3. Pokok ini seharusnya dibongkar, tapi dibiarkan untuk dijadikan pedoman percobaan Promax. Pokok ini akan ditinjau kembali 10 hari kemudian(apakah jamur tersebut mati atau tidak).


Bersambung...

Wednesday, November 3, 2010

Jamur Akar Putih (JAP)


UPDATE 23/04/2012: Untuk saat ini, kami sendiri memakai PROMAX untuk mengatasi JAP (silakan baca hasil review promax di post selanjutnya)

Jamur akar putih (JAP) atau Fomes SP (sering disebut "komes" oleh petani) merupakan salah satu penyakit utama di tanaman karet. Penyakit akar ini apabila tidak segera ditanggulangi dapat mengakibatkan kematian tanaman dimana populasi per hektar turun dan berakhir pada penurunan produksi.

Cara mendeteksi JAP secara visual:
  • Daun kusam dan menguning, biasanya daun berbentuk seperti perahu terbalik.
  • Pokok yang terserang biasanya berbunga atau berbuah sebelum musimnya.
  • Apabila terdapat semut, pokok tsb wajib diperiksa
  • Korek tanah di sekitar pangkal pohon dan apabila terdapat benang-benang putih pada akar tanaman, maka pokok tersebut telah terserang JAP.
  • Daerah sisipan dimana pokok sebelumnya tumbang akibat JAP. Pokok-pokok tetangga juga wajib diperiksa.
  • Daerah yang masih terdapat tunggul-tunggul yang tidak dibersihkan pada saat pengolahan tanah. Tunggul-tunggul ini merupakan sumber makanan bagi JAP, jadi sebaiknya dibongkar.
Pencegahan
  • Pencegahan dilakukan sejak dini dimulai dari pengolahan tanah yang baik, seleksi bibit yang bebas dari JAP, sampai penanaman bibit di lapangan dengan penaburan belerang di lubang tanam. 
  • Pencegahan pada stadium awal ini dilakukan dengan menggunakan fungisida yang mengandung Triadimefon dengan dosis 5ml dicampur dengan satu liter air. Campuran satu liter ini disiramkan pada sekeliling pangkal batang pokok. 
  • Untuk tanaman yang terserang pada kondisi yang lebih parah, di mana terlihat adanya pembusukan akar, kaki gajah membengkak dan benang-benang putih semakin banyak, maka tanaman tersebut perlu di bongkar. Benang-benang putih yang menempel pada permukaan kulit akar dikerok sampai bersih. Bagian akar yang busuk di pahat kemudian dioleskan dengan  fungisida yang mengandung Triadimefon, kemudian dicampur dengan tepung dempul sehingga tekstur campuran seperti susu. Oleskan pada akar-akar yang dibersihkan terlebih dahulu. Bagian bawah akar yang tidak terlihat langsung oleh mata mesti di oleskan juga dengan menggunakan cermin. Tunggu hingga kering. Bagian dinding lubang tanam ditaburkan belerang, kemudian lubang di tutup dengan tanah yang bebas dari JAP (jangan menggunakan bekas tanah yang dibongkar). Sisa-sisa kulit akar yang dikerok, batang akar yang dipahat/penggal, dan tanah yang digali dikumpulkan di goni kemudian dibakar di tempat yang aman. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penularan JAP ke tanaman yang sehat.

Akar yang terserang JAP

Stadium awal JAP hanya melekat pada permukaan akar

Bagian hitam menandakan akar tersebut telah mati. Walaupun setengah bagian lainnya masih hidup, kami putuskan untuk memotong akar ini juga guna mencegah penyebaran JAP ke akar tunggang.

Akar yang telah dibersihkan dari jap dioleskan dengan campuran fungisida yang mengandung Triadimefon  + tepung dempul

Penanaman kacangan dapat mempercepat pelapukan sisa-sisa tanaman sebelumnya, sehingga dapat mencegah penyebaran JAP

Motto: Never stop learning my friend.